Saya tidak berpikir untuk memakai bahasa yang saya pelajari selama 5 tahun di perguruan tinggi tersebut.
Apa yang saya rasakan dan belum saya usahakan adalah saya tidak dengan sengaja mencari-cari pekerjaan yang membutuhkan bahasa tersebut, dan saat itu saya berpikir bahasa tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan dunia dan industri modern saat ini.
Sejak Kapan Saya Belajar Bahasa Lagi?
Beberapa tahun kemudian tepatnya ketika COVID 19 mewabah di tahun 2020, saya merasa sayang dengan berbagai bahasa yang telah saya pelajari.
Kemudian saya berusaha mengaktifkannya lagi karena perkembangan internet dan aplikasi bahasa yang mudah tersedia seperti Duolingo, Buusu dan Youtube.
Saya aktifkan kembali pembelajaran di 5 bahasa yang pernah saya pelajari dan bahasa yang sudah saya bisa, saya perdalam lagi dengan cara shadowing native speaker dan berbicara sendiri.
Bahasa Apa Saja yang Saya Pelajari?
Bahasa Inggris, memperdalam percakapan, ada 3 hari wajib bagi saya mendalami bahasa Inggris yakni Sabtu, Ahad dan Senin, dalam 3 waktu itu saya wajib membaca semua artikel online dalam bahasa Inggris, berbicara baik kepada diri sendiri maupun dengan keluarga menggunakan bahasa Inggris. Walau bahasa Inggris adalah profesi saya yakni untuk mengajar dan menerjemahkan secara komersil, namun saya merasa masih banyak kosakata natural, C1, C2 dalam bahasa ini yang belum saya ketahui. Saya belajar dari video YT masyarakat yang berbahasa Inggris di Inggris, AS dan Australia. Sementara khusus hari Senin diperuntukkan belajar kosakata dan aksen British.
Bahasa Belanda, nah ini bahasa yang saya pelajari selama kuliah. Ketika memutuskan belajar kembali saya mencoba membaca berita-berita online koran Belanda, dan ternyata wah susah ya, karena sudah lama tidak bersentuhan dengan itu, dan banyak kosakata yang saya tidak paham padahal itu dipakai sehari-hari oleh masyarakat Belanda. Kemudian saya melatih percakapan dengan berbicara kepada diri sendiri. Waktu kuliah dulu, percakapan saya tidak lancar karena fokusnya ke membaca. Kemampuan bicara saya sangat kurang sekali karena saya tidak melatihnya secara serius. Bahasa Belanda saya khususkandi hari Selasa. Di hari itu saya membaca, menulis, berbicara dan mendengar semua bahan dalam bahasa Belanda, ya koran Belanda online, video YouTube orang Belanda dan sebagainya.
Bahasa Prancis. Bahasa ini saya pelajari pada saat SMA kelas 2 dan 3 dulu tahun 1992-1993. Saya cukup paham saat itu dan menjadi siswa paling tinggi nilainya di kelas saya. Bahkan saya terkenal sebagai siswa yang dilabelkan pandai berbahasa Prancis. Bahasa Prancis dialokasikan pada hari Rabu. Sumber pembelajaran adalah Duolingo dan You Tube serta material lain dari website-website berbahasa Prancis. Sama juga saya khususkan hari itu membaca dan berbicara kepada diri sendiri dalam bahasa Prancis.
Bahasa Sunda. Bahasa daerah yang penting banget bagi saya, karena tetangga saya kebanyakan orang Sunda dan saya juga lahir dan dibesarkan di Tatar Sunda. Kalau mau bicara sama native speaker Sunda, gampang banget tinggal ke tukang nasi uduk, ke warung lontong, ke satpam dan semacamnya. Begitu banyak kemudahannya untuk latihan "nyarios sunda." Sumber YT banyak, kamus daerah online ada, malah sekarang UNPAD mengeluarkan kamus online, wih banyak dah. Walau SD sampai SMP dapat bahasa Sunda, tapi tidak paham. Kelasnya selalu ribut, gurunya tidak tegas dan juga cuek karena kalau masuk pasti bawaannya anak-anak merasa bebas, guru diabaikan. Belajar Bahasa Sunda khusus di hari Kamis. Ada komedi Sunda di YT yang jadi sumber saya mendapatkan kosakata baru sehari-hari.
Bahasa Arab. Ya, bahasa ini penting banget, malu saya kalau sebagai muslim tidak memahami bahasa Arab sama sekali. Saya ambil kursus 3 bulan bahasa Arab Quran yang mempelajari bahasa Arab dasar dalam Quran. Cukup menjadi bekal saya untuk melanjutkan ke sumber online seperti You Tube dan sebagainya. Menariknya saya memaksa diri belajar bahasa Arab dari You Tube orang-orang Belanda yang mengajarkan bahasa Arab via online dan diunggah ke You Tube. Asyik banget deh pokoknya Belanda dapat, Arab dapat. Bahasa Arab ini dikhususkan di hari Jumat.
Mau Jadi Apa Belajar Bahasa Sebanyak Itu?
Tentu itu pertanyaan sebagian orang yang mungkin tidak tahu manfaatnya memiliki kemampuan lebih dari satu bahasa. Ketika saya memulai tahun 2020 lalu, saya juga bertanya begitu kepada diri sendiri, kenapa saya mau belajar bahasa lagi, apa sanggup?
Secara alami memang saya penggemar bahasa. Maka belajar bahasa asing bagi saya mutlak. Ini potensi skill yang bisa saya pakai dan jual.
Saat Fiki Naki populer sebagai polyglot, saya merasa tertantang. Lah saya kan penggemar bahasa, masa sih kalah sama Fiki Naki lagian lebih tua saya mestinya ya sudah jalan duluan dari dulu hehehehe...
Nah manfaat mempelajari kembali dan memperdalam bahasa-bahasa itu ternyata mulai dirasakan sejak 2022, bener banyak peluang terbuka. Ya relasi, ya profesi, ya pekerjaan, ya pendapatan...dan peluangnya semakin terbuka hingga tahun 2026 ini...
Oke,...berikutnya akan saya elaborasi satu demi satu potensi dan peluang masing-masing bahasa yang saya pelajari tersebut.
Yang mau belajar bahasa Inggris percakapan, supaya lancar dan membuka banyak peluang ke depan silakan ke sini ya.....




